Alam
Semesta atau jagat raya dapat dipahami dengan konsepsi ilmiah,
filosofis dan religius. Konsepsi ilmiah bersifat partikular dan
spesifik. Karena keterbatasannya, konsepsi ilmiah saja tidak cukup untuk
memahami alam semesta. Diperlukan konsepsi lain, tentunya. Konsepsi
filosofis bersifat universal dan internal. Meskipun konsepsi filosofis
dapat memahami alam semesta dengan universal (menyeluruh), namun
sifatnya yang internal (murni spekulasi akal) bisa saja disubyektivikasi
oleh beberapa subyek tertentu. Olehnya itu diperlukan konsepsi religius
untuk dapat memahami alam semesta secara menyeluruh dan eksternal.
Konsepsi religius yang bersifat eksternal merupakan konsepsi tentang
alam semesta yang berasal dari luar diri manusia, yaitu wahyu Tuhan.
Ketiga konsepsi di atas, jika dikombinasikan dapat melahirkan suatu
konsepsi paripurna tentang alam semesta.
Organisasi Studi dan Aktualisasi Pancasila
Penulis
Mengenai Saya
Entri Populer
-
Pada masa jahiliyah, perempuan dipandang tidak begitu bernilai. Perspektif baratpun demikian di mana perempuan hanya dianggap sebagai makh...
-
Pendidikan adalah tema yang urgen dalam masyarakat kita. Melalui pendidikan, manusia dapat mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepad...
-
Assalamualaikum wr.wb teman-teman sebangsa dan setanah air. Apa kabar anda ? saya harap anda dalam keadaan semangat, walaupun melihat keada...
Ikuti
Share
Logika; Kaidah Bernalar (Berpikir) Benar
Rabu, 24 Desember 2014
by Unknown in
Label:
Hartono Tasir Irwanto
Sebagian
orang melarang orang lainnya untuk belajar logika. Bahkan sebagian lainnya
malah mengkafirkan mereka yang belajar logika. Mengapa demikian? Tentu hal
tersebut mengundang pertanyaan; apa sebenarnya yang dipelajari dalam ilmu
logika. Apakah ilmu logika adalah “ilmu hitam” yang menyesatkan bahkan membuat
yang beriman menjadi kafir? Atau malah sebaliknya, dengan mempelajari ilmu
logika seseorang akan semakin teguh keberimanannya. Yang jelas, kita tidak
dapat menghukumi sesuatu tanpa mengetahui sesuatu yang kita hukumi
tersebut.
Pancasila dan Masyarakat Muslim Modern
Rabu, 19 November 2014
by Unknown in
Label:
Hartono Tasir Irwanto
Indonesia, adalah suatu term yang mengantarkan pikiran kita kepada suatu bangsa yang terdiri dari kumpulan bangsa-bangsa pula (Sabang-Marauke), yang senasib-sepenanggungan dalam meraih dan mengisi kemerdekaan atas kolonialisme Belanda, pada umumnya. Nasionalisme internal meniscayakan kita untuk tetap pada koridor persatuan Indonesia (sila ke tiga), sembari mengikis upaya-upaya perpecahan melalui gerakan separatis dengan tetap mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila ke lima). Sementara nasioanlisme eksternal, meniscayakan kita untuk tetap bangga dan ikut membanggakan bangsa indonesia ditengah-tengah arus globalisasi, sembari menepis gaya hidup westernisasi (xenomaniac) yang mendegradasi adab-adab kemanusiaan indonesia (sila kedua). Maka, yang dapat menyatukan sesuatu yang majemuk hanyalah suatu prinsip universal yang digali dari, diterima oleh, dan dipersembahkan untuk masyarakat majemuk itu sendiri. Adapun prinsip universal itu adalah Pancasila.
Langganan:
Postingan (Atom)