Konsepsi Tentang Jagat Raya
Kamis, 08 Januari 2015 by Unknown in Label:

Alam Semesta atau jagat raya dapat dipahami dengan konsepsi ilmiah, filosofis dan religius. Konsepsi ilmiah bersifat partikular dan spesifik. Karena keterbatasannya, konsepsi ilmiah saja tidak cukup untuk memahami alam semesta. Diperlukan konsepsi lain, tentunya. Konsepsi filosofis bersifat universal dan internal. Meskipun konsepsi filosofis dapat memahami alam semesta dengan universal (menyeluruh), namun sifatnya yang internal (murni spekulasi akal) bisa saja disubyektivikasi oleh beberapa subyek tertentu. Olehnya itu diperlukan konsepsi religius untuk dapat memahami alam semesta secara menyeluruh dan eksternal. Konsepsi religius yang bersifat eksternal merupakan konsepsi tentang alam semesta yang berasal dari luar diri manusia, yaitu wahyu Tuhan. Ketiga konsepsi di atas, jika dikombinasikan dapat melahirkan suatu konsepsi paripurna tentang alam semesta.

Logika; Kaidah Bernalar (Berpikir) Benar
Rabu, 24 Desember 2014 by Unknown in Label:

Sebagian orang melarang orang lainnya untuk belajar logika. Bahkan sebagian lainnya malah mengkafirkan mereka yang belajar logika. Mengapa demikian? Tentu hal tersebut mengundang pertanyaan; apa sebenarnya yang dipelajari dalam ilmu logika. Apakah ilmu logika adalah “ilmu hitam” yang menyesatkan bahkan membuat yang beriman menjadi kafir? Atau malah sebaliknya, dengan mempelajari ilmu logika seseorang akan semakin teguh keberimanannya. Yang jelas, kita tidak dapat menghukumi sesuatu tanpa mengetahui sesuatu yang kita hukumi tersebut. 

Pancasila dan Masyarakat Muslim Modern
Rabu, 19 November 2014 by Unknown in Label:


Indonesia, adalah suatu term yang mengantarkan pikiran kita kepada suatu bangsa yang terdiri dari kumpulan bangsa-bangsa pula (Sabang-Marauke), yang senasib-sepenanggungan dalam meraih dan mengisi kemerdekaan atas kolonialisme Belanda, pada umumnya. Nasionalisme internal meniscayakan kita untuk tetap pada koridor persatuan Indonesia (sila ke tiga), sembari mengikis upaya-upaya perpecahan melalui gerakan separatis dengan tetap mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila ke lima). Sementara nasioanlisme eksternal, meniscayakan kita untuk tetap bangga dan ikut membanggakan bangsa indonesia ditengah-tengah arus globalisasi, sembari menepis gaya hidup westernisasi (xenomaniac) yang mendegradasi adab-adab kemanusiaan indonesia (sila kedua). Maka, yang dapat menyatukan sesuatu yang majemuk hanyalah suatu prinsip universal yang digali dari, diterima oleh, dan dipersembahkan untuk masyarakat majemuk itu sendiri. Adapun prinsip universal itu adalah Pancasila.