Perenialisme
adalah sebuah cabang filsafat yang sangat tua umurnya. Dimana secara etimologis
perenial dari istilah Latin yaitu philoshopia dan perpenis yang artinya adalah
filsafat yang abadi. Menurut Charles B. Schmitt perenialisme sudah ada sejak
zaman pemikir awal yang istilahnya mulai dikenal pada abad ke 16 yang ia gali
sendiri bahwa ternyata ada yang dinamakan filsafat perenial. Tokoh-tokohnya
yaitu Marcilio Ficino, Giovanni Pico, Agustino Steuco, dan Leibniz. Menurut
Karl Jaspers bahwa tidak menerima filsafat perenial sebagai sistem, karena
menurutnya filsafat apapun tidak tunduk pada aturan temporal dan perubahan
apapun. Argumen ini diperkuat oleh James Collins bahwa filsafat perenial
merupakan kata sifat yang menyintesisikan dua atau lebih pemikiran filsafat
menjadi satu sistem pemikiran yang integral dan universal.
Organisasi Studi dan Aktualisasi Pancasila
Penulis
Mengenai Saya
Entri Populer
-
Pada masa jahiliyah, perempuan dipandang tidak begitu bernilai. Perspektif baratpun demikian di mana perempuan hanya dianggap sebagai makh...
-
Pendidikan adalah tema yang urgen dalam masyarakat kita. Melalui pendidikan, manusia dapat mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepad...
-
Assalamualaikum wr.wb teman-teman sebangsa dan setanah air. Apa kabar anda ? saya harap anda dalam keadaan semangat, walaupun melihat keada...
Ikuti
Share
Revitalisasi Nilai Pancasila : Persatuan Indonesia
Rabu, 18 Februari 2015
by Unknown in
Label:
Rayhan Rahamdy
Assalamualaikum wr.wb teman-teman sebangsa dan setanah air. Apa kabar anda ? saya harap anda dalam keadaan semangat, walaupun melihat keadaan bangsa kita yang jauh dari kata baik-baik saja. Pembahasan kita kali ini menyangkut tentang hal-hal yang sangat vital pada bangsa kita yang kadang kita tidak sadari telah mengalami degradasi yang dapat menghancurkan kesatuan bangsa. Hal Itu dikarenakan adanya pergeseran nilai dan ideologi yang tidak jelas sehingga bangsa indonesia sampai hari ini akan mudah terpecah belah. Maka berdasarkan keresahan kita ini , maka mari kita kembali mengvitalkan nilai pancasila khususnya sila ke 3 yaitu Persatuan indonesia.
Assalamualaikum wr.wb teman teman para pecinta pengetahuan. Apa kabar
kalian? semoga teman teman dalam keaadaan sehat walafiat. Pada
kesempatan kali ini saya akan membahas tentang sesuatu yang kita
sepelekan dan sangat penting bagi kita karena hal ini sangat relevan
pada kita. Kenapa saya mengatakan demikian ? Karena saya akan membahas
tentang Apakah itu manusia ?. Mungkin di benak anda sangat gampang
mendefinisikannya tapi mari kita bahas hal ini lebih lanjut.
A. PENGERTIAN
Asas adalah konsep hakiki yang menjadi acuan dari ilmu pengetahuan, penulis sebut sebagai Konsep Tunggal. Ilmu pengetahuan yang didalamnya ada hukum, ekonomi, kedokteran dan lain-lainya kemudian memiliki asas-asas yang penulis sebut sebagai Konsep Majemuk, seperti Asas Kausalitas. Selanjutnya Konsep Majemuk terbagi lagi bilamana sudut pandang ilmu pengetahuan dilihat dari ilmu masing-masing. Dalam hal ini, sudut pandang penulis adalah ilmu pengetahuan hukum sehingga penulis menyebutnya sebagai Konsep Majemuk yang Tunggal atau Konsep Tunggal dalam Ilmu Pengetahuan Hukum, yaitu Asas Hukum. Konsep Majemuk yang Tunggal lalu menjadi Konsep Majemuk yang Majemuk atau Konsep Majemuk dalam Ilmu Pengetahuan Hukum, contohnya : Asas-Asas Hukum.
Pada masa jahiliyah, perempuan dipandang tidak begitu bernilai. Perspektif baratpun demikian di mana perempuan hanya dianggap sebagai makhluk yang lemah. Setelah itu muncullah feminisme ala kebarat-baratan maupun ketimur-timuran yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Feminisme adalah persamaan hak-hak perempuan dalam segala bidang (Murtadha Muthahhari.Filsafat Perempuan dalam Islam. 2012. Hal 1).
Alam
Semesta atau jagat raya dapat dipahami dengan konsepsi ilmiah,
filosofis dan religius. Konsepsi ilmiah bersifat partikular dan
spesifik. Karena keterbatasannya, konsepsi ilmiah saja tidak cukup untuk
memahami alam semesta. Diperlukan konsepsi lain, tentunya. Konsepsi
filosofis bersifat universal dan internal. Meskipun konsepsi filosofis
dapat memahami alam semesta dengan universal (menyeluruh), namun
sifatnya yang internal (murni spekulasi akal) bisa saja disubyektivikasi
oleh beberapa subyek tertentu. Olehnya itu diperlukan konsepsi religius
untuk dapat memahami alam semesta secara menyeluruh dan eksternal.
Konsepsi religius yang bersifat eksternal merupakan konsepsi tentang
alam semesta yang berasal dari luar diri manusia, yaitu wahyu Tuhan.
Ketiga konsepsi di atas, jika dikombinasikan dapat melahirkan suatu
konsepsi paripurna tentang alam semesta.
Logika; Kaidah Bernalar (Berpikir) Benar
Rabu, 24 Desember 2014
by Unknown in
Label:
Hartono Tasir Irwanto
Sebagian
orang melarang orang lainnya untuk belajar logika. Bahkan sebagian lainnya
malah mengkafirkan mereka yang belajar logika. Mengapa demikian? Tentu hal
tersebut mengundang pertanyaan; apa sebenarnya yang dipelajari dalam ilmu
logika. Apakah ilmu logika adalah “ilmu hitam” yang menyesatkan bahkan membuat
yang beriman menjadi kafir? Atau malah sebaliknya, dengan mempelajari ilmu
logika seseorang akan semakin teguh keberimanannya. Yang jelas, kita tidak
dapat menghukumi sesuatu tanpa mengetahui sesuatu yang kita hukumi
tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)